?

Log in

Introduction

Hi My name is Shela Puzi Dina, 25 years old, from Indonesia
You can call me Shela, Puzi, or dina (it's up to you)
HSJ fansu
Yorishiku onegaisimashu... *bow*

Bagian I : Anyelir

JDUARR!!
Petir membahana. Tubuhku telah basah kuyup. Kulihat bayangku pada genangan air di bawah temaram lampu taman kota. Kenapa  wajahku begitu mengerikan? Seulas wajah pucat, bibir kebiruan dipadu dengan tubuh kerempeng dibalut pakaian yang terkoyak. Kepalaku mendadak pening. Kakiku terasa lemas. Pandangan mataku memburam.
BUKK!
Tubuhku menghempas aspal, perih sakit tak terhingga. Kurasakan cairan merah berbau anyir mengaliri kening, perlahan menuruni kedua pipi, hingga kurasakan asinnya di bibirku. Kesadaranku perlahan menghilang. Sempat kulihat senyum mama sebelum semua pandanganku benar-benar gelap. Sentuhan hangat membuatku tersenyum.
...
PRANGGG!!
Piring malang hancur berkeping setelah menghempas lantai. Lelaki bertubuh kekar menghempaskan pantatnya di atas kursi. Sementara itu wanita berkebaya menyungingkan senyuman sinis. Seorang gadis lima belas tahunan meringkuk ketakutan di balik pintu dapur.
“Ini semua pasti turunan dari kamu!”
“Papa seenaknya ya?”
“Kalau bukan dari kamu atau keluargamu, dari siapa lagi?”
“Ya bisa saja dari Papa kan?”
“Jaga mulutmu Marni. Keluargaku yang terhormat tidak mungkin menurunkan penyakit memalukan seperti itu!”
“Siapa tahu?”
PLAKKK!! Tamparan keras. Si wanita masih tak mau kalah. Ditatapnya suaminya dengan mata nyalang sembari memegangi pipinya yang memerah. Sementara itu, dua buliran bening menuruni pipi si gadis di balik pintu. Lelaki itu menghembuskan napas berat berkali-kali untuk kemudian memalingkan mukanya kesal. Hening menguasai keadaan beberapa jenak hingga secara mendadak amarah merasuki hati si lelaki.
“Jangan-jangan mama selingkuh ya? Makanya anakmu begitu!”
“Apa? Papa benar-benar keterlaluan! Jelas-jelas mukanya itu mirip denganmu Pa!”
“Mirip darimananya?” Lelaki itu menjambak rambut istrinya. Teriakan histeris menggema di seluruh ruangan. “Katakan padaku apa miripnya Heh!”
“Ampun Pa!”
“Ampun katamu!”
BUKK!!
Tubuh sang istri menghempas lantai. Gadis dibalik pintu terisak. Dengan gontai dilangkahkannya kakinya ke kamar. Tangannya gemetar membuka pintu kamar mungilnya. Tubuh yang ringkih menghempas tempat tidur namun mata yang sembab menolak untuk tidur, hanya menatap langit suram dari tirai yang terbuka. Sebuah ide gila pun melintas....
Perih namun sudut bibir mungil itu membentuk lekukan proporsional, senyuman manis namun getir. Tetesan darah membasahi karpet bermotif beruang kecil. Pisau lipat berlumur darah terjatuh dari atas tempat tidur....

...
“TIDAAAAK!”         
Siluet cahaya mentari membawaku kembali ke alam nyata. Tubuhku bermandikan keringat. Kerongkonganku terasa kering. Napasku tersengal. Bibirku gemetaran. Bayangan mimpi buruk yang sudah lama tak mengangguku entah kenapa semalam kembali bermunculan.
Hening, hanya detak jam dinding.
Beberapa jenak kupejamkan mataku. Aroma khas menelusup rongga hidungku, menenangkan pikiran. Ketakutanku mendadak sirna. Keingitahuan skeetika menguasai pikiran. Bola mataku mulai mengitari ruangan tempatku berada kini. Sebuah kamar mungil namun nyaman. Dua buah jendela lebar sedikit terbuka membiarkan udara segar masuk, menyegarkan paru-paru yang kerontang. Tirai bermotif bunga-bunga kecil bergerak-gerak tertiup angin semilir. Sebuah tempat tidur nomor 3 di sudut kamar dan lemari kayu di sudut yang berlawanan. Beberapa perabotan tersusun rapi dan artistik. Pemilik kamar ini pastilah seseorang yang mencintai keindahan.
Mataku masih belum puas berpetualang. Kali ini sebuah meja di dekat jendela yang menjadi pusat perhatianku. Sebenarnya tak terlalu istimewa, hanya meja kayu tua berulir. Jambangan antik berisi beberapa kuntum bunga segar di atasnyalah yang menarik bagiku. Bibirku menyunggingkan seulas senyum. Aha! Benda ini yang kucari sedari tadi. Benda yang menguarkan aroma khas menenangkan.
Aku mencoba bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan menuju jambangan bunga. Kuhirup dalam-dalam. Ah... begitu menyegarkan.
KRIEETT
Decit pintu mengagetkanku. Seulas senyum lembut menyambutku dari balik pintu. Wanita bertubuh subur membawa senampan bubur yang membuat perutku berbunyi. Rambutnya tergelung rapi dan sedikit memutih. Aku hanya terpaku dengan tatapan hampa.
“Kamu sudah bangun, Nak.” Tak ada jawaban. “Kamu pasti lapar. Saya bawakan kamu makanan.”
Wanita itu mendekat masih dengan senyum lembutnya. Aku mundur secara refleks. Kakiku mendadak lemas. Tubuhku meringkuk gemetar di bawah jendela. Bibirku bergerak-gerak tak beraturan. Wajah yang lembut itu mendadak menjadi muram.
“Kamu baik-baik saja? Ada yang sakit?” Tangan keriput menyentuh keningku, Hangat. Oh Tuhan tak pernah kurasakan sentuhan sehangat ini. Aku menatap wajah di hadapanku. “Tenang saja, saya bukan orang jahat.” Dengan lembut dibimbingnya aku berdiri. Anehnya, tubuhku tak lagi memberontak, dengan patuh duduk manis di atas sisi tempat tidur, berhadapan dengan wanita itu. “Sekarang makan ya?’ Aku mengangguk.
Satu sendok bubur panas mampir di depan bibirku. Kubuka mulutku perlahan. Aku meringis, panas membakar lidahku. Wanita berwajah lembut tersentak kaget. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan yang dalam.
“dimana aku?”
“Kamu di rumahku. Seorang wanita tua yang kesepian, Nak. Orang-orang biasa memanggilku Bunda Asih. Siapa namamu?”
“Mia.”
“Nama yang cantik. Nanti kalau Mia sudah agak baikan, saya antar pulang ke rumahmu.” Tanpa sadar tubuhku melingkar di atas tempat tidur. “Kamu kenapa Mia?” tatapan cemas. Tubuhku semakin gemetar. “Kalau kamu masih tidak bisa menceritakannya tak apa. Sekarang kamu istirahat saja.” Bunda Asih memnyelimuti tubuhku. Wanita itu beranjak dari tempat tidur. Tanganku memegangi lengannya. Bunda Asih mengerutkan kening,
“Jangan tinggalkan saya sendiri...”, serak kudengar suaraku sendiri, Bunda Asih kembali duduk di sisi tempat tidur. Kali ini tangannya membelai lembut rambutku. Sebuah de javu menyelesak,

Penerimaan raport dan perpisahan kelas tiga. Suasana hiruk pikuk mewarnai sekolahku. Aku tak terlalu menikamtinya. tubuhku agak demam hari ini. Beberapa kali tanganku melakukan gerakan tanpa sadar. Aku hanya meringkuk di kursi tamu undangan sementara teman-temanku sibuk menyanyi tak jelas di atas panggung. Rasa sakit hebat menyerang kepalaku. Gerakan tanpa sadar mulai terjadi dengan frekuensi lebih sering. Aku kehilangan kendali. Tubuhku terjatuh dari kursi, berguncang-guncang di lapangan sekolah...
...
Ketika membuka mata, ruangan putih beraroma karbol menyambutku. Selang infus membelit lenganku. Aku mencoba memadangi sekeliling. Tak ada siapapun di ruangan ini. Kucoba bangkit namun tubuhku masih terlalu lemah.
Pintu dibuka dari luar. Entah mengapa kurasakan suasana yang tak nyaman. Kuputusan untuk berpura-pura tidur. Papa dan mamaku memasuki ruangan. Kucoba mengintip. Wajah-wajah itu nampak lelah. Aku benar-benar merasa bersalah.
“Bagaimana ini Pa?”
“Entahlah.” mamaku mulai terisak.
“Dia masih terlalu muda Pa.”
“Dokter bilang tak bisa disembuhkan.” Aku terhenyak. Apakah aku menderita penyakit mematikan? Apakah waktuku takkan lama lagi. Aku benar-benar takut.
“Tapi dia tak harus menanggung malu seumur hidupnya kan?” Malu? Apa lagi ini?  Aku menggigit bibirku.
“Bukan hanya dia, kita sekeluarga juga harus menanggung aib ini.” Aku meringis.


Bunda Asih tersenyum lembut.
“Boleh saya tinggal di sini, Bu?”
“Saya senang sekali tetapi tentu orang tuamu akan cemas, Nak....”
“Mereka tidak akan cemas.” Bunda Asih mengerutkan kening, heran. “Maaf Bu saya tidak bisa menceritakannya sekarang.”
“Tak apa, Nak.”
“Tapi saya boleh tinggal di sini?”
“Selama yang kauinginkan.” Seulas senyum lembut tumbuhkan secercah harapan.
“Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama, sekarang kamu tidur saja lagi. Kamu terlihat masih sangat lemah.” Telapak tangan hangat dan lembut itu kembali mengusap-usap kepalaku. Mataku semakin redup. Rasa kantuk mengantarkanku mengarungi samudra mimpi.
***
Adzan subuh berkumandang,
Sebuah sentuhan lembut membuatku membuka mata perlahan. Wajah bunda Asih yang basah guratkan seulas senyuman. Aku mengucek-ucek mataku. Kepalaku masih sedikit pusing.
“Sudah merasa enakan?”
“Iya, Bu.”
“Shalat subuh yuk!”
“Saya....” Aku merasa sedikit risih. Sudah lama aku tak melaksanakan kewajiban yang satu itu. Semacam aksi protes kepada-Nya karena penyakitku. Meski tidak ada penyakit inipun,  shalatku juga belang-belang.
“Kenapa Nak?”
“Tidak apa-apa, Bu. Saya mau ambil wudhu dulu.”
“Saya tunggu di ruang keluarga.” Aku hanya mengangguk, permisi keluar kamar menuju kamar mandi.
...
Guyuran air pertama membasahi wajahku, dingin tetapi membawa kesegaran. Guyuran air berikutnya membasahi anggota wudhuku yang lain. Hidungku terasa sedikit perih dan tubuhku agak gemetar. Mungkin karena tak terbiasa bangun sepagi ini. Musim kemarau memang selalu mendatangkan dingin di subuh hari.
Usai berwudhu, aku segera ke ruang keluarga. Bunda Asih telah menungguku di sana. Sajadah bermotif ka’bah sudah terhampar lengkap dengan mukena yang terlipat rapi di atasnya. Sementara itu, Bunda Asih sudah siap di atas sajadahnya. Setelah menundukkan kepala sedikit, kukenakan mukena. Ah! terasa ada yang mengganjal. Aku tak tahu mengapa?
”Allahuakbar....” suara lantunan takbir yang merdu. Namun, pikiranku entah kenapa malah berkelana kemana-mana. Kuharap Dia mengampuni tingkahku ini....

Kumandang adzan,
Gadis berusia 5 tahun itu mengamati ibunya yang tertidur lelap. Bibir mungilnya menirukan kumandang adzan dengan nada cadel. Dia teringat almarhum kakeknya. Sang kakek selalu terbangun dini hari ketika mendengar lantunan bunyi itu. Kakek akan membasahi beberapa anggota tubuhnya untuk kemudian melakukan gerakan-gerakan tertentu. Gadis itu seringkali diajak oleh sang kakek. Dia hanya mengikuti gerakan kakeknya saja. Kakeknya berjanji akan mengajarinya namun Allah sudah menjemput sang kakek.
Gadis kecil teringat kembali penjelasan kakeknya mengenai dosa. Tangan mungilnya pun segera menarik-narik baju ibunya. Wanita muda yang terbaring di sampingnya mendengus dengan mata setengah terbuka.
“Kenapa Mia?”
“Mama kita shalat yuk!”
“Aduh Mia Mama masih mengantuk.” Wanita itu membalikkan tubuhnya.
“Pa.....”
“Huh?”
“Shalat Yuk Pa!”
“Papa semalam lembur, Papa masih capek.”
“Tapi Pa nanti kita berdosa.” Lelaki muda itu terpaksa bangkit, mengelus rambut putrinya. “Mia kan masih kecil tidak mungkin punya dosa.” Sang ayah kembali terlelap. Kedua orang tuaku mungkin sudah melupakan kata-kata mereka subuh itu. Tak pernah mereka sadari kata-kata itu membekas di memori gadis kecilku, membentuk suatu kebiasaan buruk, menanamkan kemalasan.
***


Udara pagi yang sejuk memanjakan paru-paruku. Aroma kebun bunga menimbulkan estetika sendiri, menenangkan pikiran, menyediakan kedamaian hati. Belasan jenis bunga bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri seolah tengah menari bersama angin semilir. Lima batang pohon akasia berdiri kokoh di antara keanggunan bunga berwarna-warni. Bunda Asih memang benar-benar pecinta  bunga. Rumahnya mungil namun memiliki kebun bunga yang begitu luas. Di pinggir jalanan, beliau mengelola sebuah toko bunga.
Kulihat sebuah bangku panjang di tengah kebun. Akhirnya kuputuskan duduk di sana untuk merenung. Sudah tiga hari aku menumpang di rumah bunda Asih. Aku mulai tak enak hati. Rasanya seperti benalu saja. Aku benar-benar ingin berguna bagi wanita berhati malaikat itu. Kuharap ada yang bisa kulakukan untuknya.
“Mia, kamu baik-baik saja?” sebuah sentuhan lembut membuatku terhenyak.
“Eh oh Ibu?”
“Maaf mengagetkanmu, Nak.”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Kamu baik-baik saja?” Aku menunduk. Bunda Asih duduk di sampingku, mengelus punggungku lembut. “Jika ada masalah kamu bisa cerita. Anggap saja saya orang tuamu.” Aku memainkan ujung bajuku. Gelisah mengangguku.
“Saya... merasa menjadi beban... tidak adakah yang bisa saya bantu?”
“Saya tidak pernah menganggapmu beban. Justru sebaliknya, sejak Nak Mia tinggal di sini saya jadi tidak kesepian lagi.”
“Tapi Bu saya masih....” Bunda Asih terlihat berpikir sejenak.
“Kamu ingin membantu?”
“Apa yang bisa saya bantu, Bu”, ucapku antusias.
“Hmm... bagaimana kalau Nak Mia bantu Ibu mengurus kebun bunga dan toko? Nak Mia mau?”
“Tentu saja, Bu. Siapa yang tidak mau mengurus tempat yang seindah kebun Ibu ini.”
“Wah terima kasih Nak Mia.”
“Sayalah yang harus berterima kasih.”
“Ingin mulai mencobanya?” Aku mengangguk dengan senyum sumringah. Bunda Asih bangkit dari kursi. “Mia boleh panggil saya Bunda.”
“Iya Bunda”, ucapku sedikit janggal. Aku mengikuti setiap langkah yang dilakukan Bunda Asih dengan telaten. Bunda Asih nampak senang dengan hasil kerjaku. Hari pertamaku berkenalan dengan para bunga dan kupu-kupu. Pertama kalinya kulakukan sesuatu atas kemauanku sendiri. Tak kusangka akan timbulkan kepuasaan tersendiri.
***
Mataku sembab. Suaraku masih sesenggukan. Tubuhku masih sedikit berguncang. Aku tak sengaja mendengar pertengkaran orang tuaku. Aku mendengar sesuatu yang tak seharusnya kudengar, penyakit sialan ini.             Pikiranku berkecamuk. Aku perlu seseorang untuk menenangkanku namun kutahu orang tuaku sendiri tak bisa diharapkan. Kuraih ponselku yang tergeletak lesu di atas meja belajar. Kupencet beberapa nomor,
“Halo... Tina.”
“Mia?”
“Tin aku mau curhat....”
“Aduh maaf sekali ya Mia. Sekarang aku gak bisa. Soalnya lagi bantu mamaku mau ada acara.”
“Oh begitu maaf....”
“gak papa. Sudah dulu ya?”
“Iya....”
Awalnya aku tak menganggap hal itu sebuah penolakan. Namun, ketika kuhubungi Lisa, Siska, Mariam kusadari keengganan mereka bicara denganku. Meski dengan alasan yang beraneka ragam, maksudnya hanya satu, menghindariku. Terlebih setelah besoknya dan besoknya lagi mereka semua benar-benar menjauhiku. Apakah penyakitku benar-benar suatu aib memalukan?


“TIDAAAAKKK!”
Keringat kembali membanjiri tubuhku. Ah! lagi-lagi aku bermimpi buruk. Bukan benar-benar mimpi buruk, lebih tepatnya cuplikan kelam masa lalu. Aku mengatur napasku yang tak beraturan. Tubuhku terasa amat lelah. Kutatap jam dinding yang tergantung lesu, 23.45 WIB.
Krieett!!
Pintu berdecit. Kutemukan raut wajah cemas Bunda Asih. Wanita bersahaja itu duduk di sisi tempat tidur. Tak sepatah kata keluar dari bibirnya, hanya belaian lembut di kepalaku. Aku menjatuhkan kepalaku di pangkuannya. Setelah kondisiku sedikit lebih tenang, Bunda Asih menatapku lembut.
“Mia, kenapa?”
“Mimpi buruk, Bunda.”
“Sstttt ssst... itu hanya mimpi buruk.”
“Bukan benar-benar mimpi buruk, Bunda. Mia teringat masa lalu yang menyedihkan.”
“ssstt sssttt Mia tidak usah takut. Mia punya Allah, Mia juga punya Bunda.” Aku mengeratkan pelukanku. “Oh ya tunggu sebentar.” Bunda Asih melepaskan pelukanku. Aku ketakutan melihat Bunda Asih keluar kamar. Namun, hatiku kembali tenang melihat beliau kembali duduk di sampingku. “Lihat ini!” Aku meraih dua buah buku yang disodorkan padaku.
“Ini apa Bunda?”
“Yang pertama buku favorit bunda. Buku tentang bunga-bunga. Kalau yang kedua adalah tulisan Bunda.” Aku membukanya dengan penasaran. “Jika Bunda sedih, sering menulis untuk meluapkan perasaan. Akhirnya menjadi sebuah buku. Mia juga bisa menuliskan perasaan Mia.” Aku mulai mengerti.
“Terima kasih Bunda.”
“Sama-sama. Nanti kalau sudah selesai Bunda mau membacanya, boleh kan?”
“tentu saja, Bunda.”
“Sekarang Mia tidur lagi saja.” Aku mengangguk. Kurebahkan tubiuhku di atas tempat tidur. Bunda Asih menyelimuti tubuhku dan mengusap rambutku lembut. Bunda Asih keluar kamar setelah mengira diriku telah tertidur. Aku tak bisa tidur, tak sabar ingin mulai menulis. Aku menatap langit-langit mencari inspirasi. Seebuah ide melintas. Aku akan menuliskan jalan hidupku, orang-orang yang kutemui dan bunga apa yang cocok dengan mereka. Bunda Asih yang melintas pertama kali di otakku. Tanganku bergerak-gerak perlahan di atas kertas, setangkai bunga anyelir terukir di kertas. Barisan-barisan huruf mulai berloncatan di atas kertas.
***




Omedetto Tanjoubi chiichan :)

Tags:

Jan. 31st, 2014

It's late but I want to say
HAPPY BIRTHDAY PAPA

Tags:

Bagian 7 : Cinta

Melati menghembuskan napas berat melihat wajah Alfa yang semrawut. Ah! baru saja selesai satu masalah timbul lagi masalah lainya. Pembicaraan Dewi dan Citra yang tak sengaja diketahui Ririn dan Nana sempat membuat kedua gadis remaja itu mendiamkan Melati berhari-hari. Beruntung, Melati dapat mengambil hari mereka kembali. Melati berhasil membuat keduanya mengerti keadaanya. Meskipun sebenarnya adalah karena diam-diam Ririn dan Nana mengharapkan Melati dan Alfa benar-benar jatuh cinta. Masalah itu sudah beres bagi Melati.
Kali ini masalahnya terletak pada alfa, Seharian ini wajah tampan itu tak sediktipun tersenyum. Lelaki itu nampaknya sedang merajuk. Seperti anak kecil saja, pikir Melati. Namun, lama kelamaan didiamkan, Melati tak tahan untuk tidak bertanya.
“Kenapa sih Fa?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Jangan ngambek dong!
“Aku gak ngambek kok?”
Alfa berpura-pura fokus pada jalanan di depannya. Hening kembali menguasai keadaan. Melati berpikir sejenak. Dirunutnya perlahan kejadian

Read more...Collapse )






Tags:

Biarkan Hati Bicara Bagian VI : Rindu

Mobil berjalan perlahan di jalan tol. Melati menghitung pepohonan kiri kanan jalan. Dilakukannya hal gila itu untuk membunuh kebosanan. Nana sudah jatuh terlelap sedari tadi. Diliriknya arloji di pergelangan tangannya, 10.24 WIB. Ah! baru setengah jam dirinya meninggalkan rumah. Rasa-rasanya sudah berjam-jam. Mungkin karena suasana yang sepi. Pak Eman memang tak banyak bicara, hanya fokus pada kemudi.
Beda rasanya jika berjalan-jalan dengan Alfa, rasanya akan selalu ada yang dibicarakan, pikir Melati. Melati terhenyak. Apa yang kupikirkan? Apakah itu yang disebut kerinduan? Melati membatin lagi. Dipandanginya bayang wajahnya di kaca jendela mobil. Kamu tidak boleh jatuh cinta, Melati.
Beruntung, Melati tahu bagaimana cara menguasai perasaannya. Hanya perlu beberapa jenak memejamkan mata dan beberapa hembusan napas untuk menjauhkan perasaan pribadi yang dianggapnya tak perlu. Melati mulai mencoba berpikiran positif bahwa dia hanya ingin teman bicara. Tak ada hubungannya dengan Alfa. Namun, satu hal yang tidak diketahui Melati adalah Alfa sendiri bukanlah seseorang yang hobi mengobrol. Alfa termasuk makhluk pelit dalam urusan berbicara. Kebosanan akhirnya berubah menjadi rasa kantuk. Melati jatuh tertidur....
...
Read more...Collapse )

Tags:

Biarkan Hati Bicara Bagian V : Konspirasi

Melati asyik menulis di sebuah buku sementara televisi berkoar-koar sendiri. Sang penonton, Ririn dan Nana tertidur di sofa. Rumah menjadi sepi, terlebih karena Bu Mariam sedang pergi check up. Sedangkan Alfa pergi ke kantor. Libur semester Alfa memang harus kembali bekerja. Sementara Melati sudah selesai perkuliahan hanya mengerjakan skripsinya. Terkadang bosan juga tak ada kerjaan. Tapi toh sebentar lagi Alfa akan pulang.
Krieet
Pintu depan dibuka perlahan. Melati bangkit dari sofa, berjalan ke ruangan depan. Benar saja dugaannya, Alfa sudah datang dari kantor. Melati segera mencium punggung tangan suaminya untuk kemudian membawakan tasnya. Selanjutnya, keduanya duudk di sofa. Alfa membelai rambut Ririn dan Nana untuk kemudian melepas sepatunya. Hening sejenak hingga rasa lelah membuatnya menjatuhkan kepala di bahu Melati.
“Mel... aku benar-benar lelah. Mereka terus mendesakku. Aku menolak karena aku ingin karyawanku sejahtera. Apakah karena mereka menganggapku masih muda?”
“Mungkin... tapi begitulah kehidupan. Takkan selamanya indah kita harus menjadi kuat untuk menghadapinya. Jika untuk kebenaran kamu harus bertahan.”
“Terima kasih...”
“Sama-sama.” Tiba-tiba Alfa tertawa. “Kenapa Fa?”
“Rasa-rasanya kita sudah seperti suami istri beneran. Pertama kali kau mencium tanganku rasanya aneh sekali tapi lama-lama terbiasa ya?”
“Oh... itu karena kamu menikahiku dengan resmi maka aku akan berusaha menjadi istri yang baik,”
“Kalau begitu aku juga akan menjadi suami yang baik. Aku bahkan belum....”
“Kalau belum siap tidak usah memaksakan diri.”
“Iya Nyonya. Oh ya kamu tidak ada acara kan besok malam?”
“Tidak. Cuma sorenya mau pergi temani Dewi. Paling juga sebentar.” Hening beberapa jenak. “Kamu mau makan atau mandi dulu?”
“Makan saja aku sudah lapar.”
“Ayo ke dapur.” Kedua pengantin baru itupun menuju dapur. Sesekali terdengar guyonan mereka.
***
Melati hanya berdiri bersandar pada dinding butik sembari mengamati Dewi yang penuh semangat mematut-matut pakaian di tubuhnya. Sesekali matanya memandang keramaian di luar. Lalu lalang manusia tak henti di pusat perbelanjaan ini. Tiba-tiba saja matanya tertumbuk pada sesosok tubuh semampai di sudut lain. Melati yang memiliki intuisi tajam dapat merasakan kharisma yang luar biasa dari gadis di sudut lain itu. Selain memiliki paras cantik dan bentuk tubuh ideal, dia juga memiliki aura kuat yang membuat sebgaian besar kaum hawa lainnya terintimidasi dengan keberadaannya. Benar saja dugaan Melati, baru sebentar si Dewi sudah mencolek bahunya.
“Ya?”
“Lihat gadis yang di sana!”
“Kenapa?”
“Cantik banget Mel.Ya ampyuuun rasanya aku jadi minder deh. Lihat aja cowok-cowok yang udah punya pasangan pun melirik dia.” Melati hanya mengangguk-angguk. Kata-kata Dewi memang benar adanya. “Kecantikan yang sempurna....”
“Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika kamu ingin menghadapi kehidupan yang keras ini jangan pernah sesali kekuranganmu. Karena masih banyak orang yang lebih menderita dari kita.”
“Iya iya cukup ceramahnya.”
“Kita makan Yuk. Aku lapar.”
“Kamu gak beli baju?”
“Tidak.”
Ih, udah punya suami kaya masa masih pelit.”
“Ibu rumah tangga yang baik harus tahu saatnya menggunakan uang dengan tepat. Boros adalah musuh utama!”
“Baiklah Nyonya Alfa Pratama. Tunggu sahabatmu bayar dulu ke kasir.” Melati hanya mengangguk pelan. Tak diketahui mereka sepasang mata menyiratkan keterkejutan luar biasa diikuti sorot kekecewaan. Selanjutnya, sorot matanya menjadi tajam dan penuh kebencian.
...
Melati menyantap hidangan perlahan. Dewi hanya memesan minuman rendah kalori, program diet lagi. Berat badannya meningkat beberapa kilo dalam 2 bulan terakhir. Beda dengan Melati yang masih tak bisa naik-naik berat badannya. Dua sahabat itu hanya mengobrol hal ringan. Dewi merasakan keceriaan dalam nada suara Melati. Dia mulai curiga Melati jatuh cinta dengan Alfa. Jika benar tentu saja sebagai sahabat Dewi akan menjauhkan mereka agar Melati tak sakit hati. Namun, Dewi takut untuk bertanya....
“Ehemm”, sebuah deheman. Melati dan Dewi menoleh ke samping. Tak disangka, si cantik di butik tadi sudah berdiri di samping mereka. “Maaf apa saya boleh ikut duduk di meja ini? Ummm tak ada meja yang kosong.” Dewi hampir saja menolak namun Melati sudah keburu mengangguk. Seperti halnya Dewi ternyata gadis itu hanya memesan minuman rendah kalori.
“Kenapa Anda memilih kami?”
“Karena kukira kita masih sebaya jadi akan lebih nyambung kalau ngobrol dan juga... saya tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan Anda berdua tadi. Nyonya Alfa Pratama... Apakah Anda maksud Alfa Pratama pengusaha muda pemilik PT Aman Sentosa.” Melati dan Dewi hanya mengangguk. “Wah kalau begitu selamat.” Gadis itu menyalami Melati yang melongo. “Maaf ya aku tidak bisa datang pas resepsi. Aku sedang syuting di luar negeri. Tidak bisa ditinggalkan.” Melati dan Dewi makin melongo. “Oh ya Maaf kelupaan, perkenalkan dulu Nama aku Citra Ayundia, teman satu SMAnya Alfa.”
“Melati.”
“Aku Dewi.”
“Benar-benar tidak disangka-sangka ya. Suatu kebetulan sekali.” Melati merasakan kegetiran dalam suara itu.
“Oh ya. Bagaimana Alfa di waktu SMA?” Dewi tiba-tiba bertanya.
“Hmm.... ya tidak jauh beda. Selalu dikejar-kejar wanita. Aku beruntung sekali pernah menjadi kekasihnya. Eh  maaf aku tidak sengaja?”
“Tidak apa-apa", suara Melati terdengar lembut. Gadis itu menatap tak percaya. Dewi mendengus kesal. Terlihat sekali memang faktor kesengajaan dalam ucapan Citra. Melati tetap tenang. “Tentu saja tak ada masalah bagiku. Aku menikahi Alfa di masa kini, bukan masa lalu.” Citra gemas. Amarah memenuhi dadanya. Mengubah arah pembicaraan digunakannya untuk mengontrol emosinya.
Melati melihat Citra sebagai gadis yang pandai memperbaiki suasana. Beberapa saat yang lalu Dewi masih mendengus-dengus kesal namun kini dirinya terhanyut dalam percakapan yang mengasyikan. Melati tak terlalu tertarik. Jemarinya mengirim pesan melalui ponselnya,
Fa aku terjebak obrolan Dewi dan mantan kekasihmu, tak bisa pulang cepat.
Eh? Mantan apa?
Citra kata dia mantanmu...
Dimana kalian sekarang? Ku jemput
Mall Flower
Tunggu aku segera ke sana.
Melati sudah pada puncak kebosanannya ketika dilihatnya Alfa memasuki tempat makan itu. Melati bangit berdiri membuat kedua orang di hadapannya itu terhenyak.
“Maaf ya kalian lanjutkan saja obrolannya. Aku sudah janji pergi dengan Alfa malam ini. Itu Alfa sudah menjemput.” Keduanya berbalik dan menemukan Alfa persis di belakang mereka. Citra nampak gugup.
“Eh oh Alfa aku... anu... oh ya lama tidak ketemu, kebetulan ketemu istrimu.”
“Ya kebetulan.” Alfa meletakkan lenganya di bahu Melati. “Kubawa dia dulu.”
“Oh ya ya silahkan.” Dewi dan Citra menjawab gelagapan.
“Ayo sayang.” Alfa menarik Melati berlalu dari Dewi dan Citra. Dewi melongo dan Citra sudah seperti kepiting rebus. Tak menyangka Alfa yang begitu cool bisa berbuat begitu so sweet pada gadis biasa-biasa saja seperti Melati. Alfa dan Melati bergegas keluar dari pusat perbelanjaan dan segera menaiki motor yang dibawa Alfa. Tawa mereka pecah setelah berada jauh dari pusat perbelanjaan.
“Kau lihat muka gadis itu lucu sekali ha ha ha.”
“Ya dia begitu kaget.” Hening sejenak. “Tapi lain kali jangan seenaknya menjadikanku alat untuk membuat orang lain cemburu. Itu tidak gratis tau?”
“Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak ada perasaan apapun padanya jadi buat apa membuatnya cemburu? Aku hanya tak suka sikapnya padamu.”
“Oh...” Hening sejenak. “tumben hari ini pakai motor.”
“Biar bisa dipeluk olehmu”, goda Alfa.
“Seperti ini.” Melati tak mau kalah. Dipeluknya pinggang Alfa erat dengan posisi kepala bersandar di punggung suaminya. Wajah Alfa langsung memerah, nampak sekali dirinya menjadi grogi, traffic light menyala merah hampir dilanggarnya. Melati tertawa renyah. “Ha ha Alfa yang grogi seperti anak kecil.”
“Aku bukan anak kecil dan aku tidak grogi.” Ala cemberut. Melati melepaskan pelukannya. Entah kenapa Alfa merasa sedikit kecewa. “Kita sudah sampai.” Alfa menghentikan motornya di tempat parkir sebuah restoran.
“Restoran ini... jam segini kok sudah sepi.”
“Tentu saja aku sudah memboking tempat ini untuk kita berdua.”
Melati mengangguk-angguk paham. Alfa mengajak Melati masuk dan mempersilahkannya duduk. Setelah itu, Alfa malah permisi ke belakang. Lama Melati menunggu suaminya yang tak jua kembali. Melati mulai bosan. Akhirnya diputuskannya untuk mengamati ornamen restoran. Sebuah restoran yang sederhana namun ekslusif dan klasik, menawarkan hangatnya sebuah keluarga....
“Ehemm”, sebuah deheman. Melati berbalik dan menemukan Alfa dengan seragam pelayan restoran. Lelaki itu menyajikan sebuah kue tart dengan ukiran angka 22 dan hidangan makanan.”Selamat ulang tahun Nyonya Melati Pratama.” Melati awalnya terkejut namun kemudian tersenyum kecil, “Cicipilah hidangan buatanku.”
“Ha ha sepertinya kamu lebih cocok jadi koki darpda jadi direktur. Baiklah akan kucicipi.” Hening sejenak, Alfa tak sabar. “Hmm... enak tapi...tartnya agak terlalu manis mungkin gulanya perlu dikurangi sedikit. Kalau hidangannya perlu sedikit lagi garam.” Alfa duduk di hadapan Melati dengan merengut. “Loh kok jadi ngambek.”
“Kamu seperti emak-emak!” Melati mengerutkan keningnya, heran. “Kau tahu aku tak pernah bertindak so sweet kepada gadis manapun. Padahal gadis lain pasti sudah pingsan jika kuperlakukan seperti ini. Kamu malah berkomentar seperti emak-emak.” Alfa bersungut-sungut. Melati tersenyum lembut. dirinya semakin mirip seorang ibu.
“Ha ha maaf naluri seorang gadis yang kau maksud sudah lama mati dalam diriku. Aku sudah terbiasa menjadi ibu sekaligus ayah untuk adik-adikku.” Alfa menjadi prihatin. Melati tak suka kondisi sentimentil. Diapun segera mengalihkan pembicaraan sembari  mengajak Alfa makan. Seusai makan keduanya berjalan-jalan dulu di beberapa tempat tongkrongan anak muda. Sebelum pulang Alfa memberikan sebuah kado, seuntai liontin. Pulang ke rumah mereka diomeli karena membuat pesta kecil yang diadakan Bu Mariam menjadi sia-sia. Keduanya terpaksa menghabiskan kue tart dengan susah payah.
Ketika malam semakin larut  keduanya permisi ke kamar. Langkah-langkah kaki diseret menuju kamar di lantai dua. Begitu menyentuh tempat tidur suami istri itu langsung terlelap dengan posisi yang tak disangka. Melati meringkuk di dalam pelukan Alfa. Sementara itu di balik pintu kamar Bu Mariam tertawa-tawa senang.
***
Siang pengap menemani Alfa dan Melati yang tengah mendiskusikan permasalahan keuangan perusahaan. Memang ada sedikit masalah yang membuat Alfa pusing. Beberapa perdebatan sengit terjadi namun dapat diakhiri dengan tawa. Setelah selesai, mereka meluruskan kaki di atas lantai dengan kepala bersandar di bantalan sofa.
“Rasanya akhir-akhir ini aku lelah sekali. Kau juga pasti lelah dengan skripsimu kan? Mungkin kita perlu liburan.”
“Boleh saja... tapi Nana dan Ririn masih belum liburan sekolah.”
“Ummm maksudku hanya kita berdua saja.” Melati hampir bicara namun tertahan oleh keriuhan di ruang tamu. Keduanya saling berpandangan untuk kemudian bangkit, pergi ke ruang tamu. Tampak Bu Mariam sedang mengobrol dengan tamunya. Ibunda Alfa memang menjadi agak baikan setelah memiliki menantu. Melihat anak dan menantunya, beliau memanggil mereka.
“Alfa... Melati Ayo duduk di sini.” Mereka menurut dan segera disambut senyum malu-malu Citra. Aktris yang benar-benar hebat gadis itu. “Alfa ini Tante Lidya, cucu dari adiknya kakek buyutmu datang berkunjung dengan putrinya, Nak Citra dia aktris terkenal loh. Dan Ini Alfa putraku dan Melati menantuku.” Alfa dan Melati mencium tangan Tante Lidya dengan sopan dan juga menyalami Citra.
“Sayang putramu sudah menikah. Padahal serasi sama Citra. Mereka bahkan pernah pacaran.” Argumen tak berperasaan. Melati merasakan Bu Mariam agak kesal.
“Oh... wah si Alfa gak pernah cerita ke mamanya tuh. Mungkin memang bukan jodohnya.” Jawaban cerdas dan menohok.
“Ya ya. Tapi aku ke sini mau minta bantuannya Alfa.”
“Bantuan apa Lid?”
“Citra ini lo, Mar. Dia mau syuting di puncak. Aku kan khawatir. Alfa kan lagi libur kuliah jadi bisa temani dia.” Alfa serba-salah ingin menolak namun tak enak. Tak disangka Melati menyelamatkannya.
“Wah kebetulan sekali ya Fa. Kami juga berencana liburan tapi masih bingung mau kemana. Kenapa tidak sekalian saja menemani Citra?” Alfa melemparkan tatapan terima kasih.
“Betul itu kata Melati. Kalian bertiga bisa berangkat bersama-sama.” Bu Mariam ikut menanggapi dengan agak gemas. Tatapan belati nan tajam dirasakan Melati. Namun, Melati tak goyah, dibalasnya mereka dengan senyuman manis. Berikutnya, hanya ada obrolan-obrolan mengenang masa lalu antara Bu Mariam dan Tante Lidya.
***
“Kamu kenapa Citra?” Sutradara sudah frustasi. Berkali-kali Citra melakukan kesalahan. Tak biasa memang aktris yang satu ini bergini.
“Maaf Pak saya kurang sehat jadi agak susah berkonsentrasi.”
“Ok kita ulang lagi.”
Alfa dan Melati hanya menoleh sejenak ke arah lokasi syuting untuk kemudian kembali mengobrol sembari menyantap bekal mereka. Sesekali saling menggoda dengan maksud bercanda. Hal inilah yang merusak konsentrasi Citra. Sembari memejamkan mata sejenak, gadis cantik itu mencoba menenangkan pikiran. Akhirnya dirinya berhasil menguasai emosi dan dapat melanjutkan syuting dengan lancar.
“Aku bosan, mau jalan-jalan ke sana dulu.” Melati menunjuk ke arah hutan. “Mau ikut?” Alfa mengangguk. Setelah membereskan perlengkapan, mereka segera menuju hutan.
“T-tunggu!”
Tampak Citra tergopoh-gopoh menyusul mereka. Meskipun sebenaranya enggan bersama gadis itu, mereka terpaksa mengiyakan. Melati menikmati panorama hutan yang sudah lama tak ditemuinya, seperti sebuah nostalgia. wajahnya begitu sumringah. senyuman tak pernah lepas dari bibir mungilnya. Alfa diam-diam memotret istrinya.
Sementara itu, Citra selalu berusaha mencari perhatian Alfa. Berteriak histeris ketika melihat laba-laba atau binatang-binatang lainnya. Alfa benar-benar kesal dan berharap Melati juga kan melakukan hal sama. Namun, hutan wisata hanyalah taman bermain bagi seseorang yang dulu pernah hidup dengan mengandalkan hasil hutan. Jangankan berteriak histeris melihat laba-laba, seekor kelinci nyasar saja hampir ditangkap buat disate olehnya.
Melati menghentikan langkahnya di pinggiran sebuah sungai. Citra mulai heboh lagi. Sementara itu, Melati malah menceburkan tubuhnya ke sungai, berenang ke sana keari, merasakan nikmatnya sungai yang masih alami. Alfa langsung meninggalkan Citra dan menyongsong Melati. Mereka berduapun kembali bercanda ria di bantaran sungai. Citra hanya bisa bersungut-sungut.
...
Mentari telah sempurna kembali ke peraduannya. Angin malam berhembus lembut meningkahi dendang binatang malam. Hawa dingin semakin menusuk. Kobaran api unggun rupanya tak cukup mengahangatkan tubuh-tubuh yang mengelilinginya.
“Dingin sekali... Eh Fa aku jadi ingat waktu kita liburan semester di SMA. Waktu aku kedinginan kamu mengasih jaket kamu, So sweet sekali rasanya.” Alfa tak menanggapi hanya menyodorkan mantel miliknya. Setelah itu duduk berdempetan dengan Melati.
“Mel...”, bisiknya lembut.
“Ya?”
“Kamu tidak pakai mantel juga kamu tidak kedinginan.”
“Tidak. Aku baru saja minum wedang jahe dan juga tubuhku sudah terbiasa dengan hawa dingin.”
“Tapi aku yang kedinginan.”
“Mau kubuatkan wedang jahe?”
“Kamu tidak mengerti maksudku Mel?” Melati menatap Alfa heran. Akhirnya, Alfa melingkarkan lengannya di tubuh mungil istrinya itu. Tak lama hingga lelaki muda itu tertidur. Terpaksa Melati memapah tubuh atletis itu dengan susah payah ke dalam tenda. Sementara itu, Citra hanya bisa menatap tajam sepasang suami istri yang menghilang di balik tenda.
***
Semenjak syuting Citra di puncak, Citra semakin gencar mendekati Alfa. Sudah berbagai jalan ditempuhnya. Kini, akalnya adalah melakukan kongkalikong dengan salah satu divisi pemasaran perusahaan agar dia menjadi bintang iklan produk perusahaan. Benar saja, rencananya untuk lebih lama bersama Alfa terlaksana. Seperti dua hari ini mereka pergi keluar kota bersama. Sementara itu, keraguan menggayuti hati Melati. Mendadak dirinya ingin sekali menghubungi Dewi.
Biip biip
Dewi...
Ya Mel?
Apakah aku harus pergi dari kehidupan Alfa?
Ada apa Mel? Kok kamu tiba-tiba....
Aku tidak tahu kenapa aku menjadi ragu dengan kesepakatan ini.
Mel... kamu baik-baik saja.
Kami habis berlibur dengan mantannya Alfa. Dia tampak sangat mencintai Alfa. Kukira gadis itu lebih pantas bersamannya.
Mel kamu mulai jatuh cinta....
Dewi aku tidak percaya cinta.
Mel!
Eh pembicaraan kita sudah dulu sepertinya aku mendapat telegram.
Mel...
TUUUTTTTT
Melati memutuskan sambungan. Dirinya segera keluar rumah untuk mengambil telegram yang datang. Kecemasan menyesak begitu melihat nama Raka sebagai pengirim. Melati bergegas kembali ke dalam rumah untuk langsung menuju kamar. Dibukanya perlahan telegram tersebut,
Assamu’alaikum
Kak Melati... nenek nendadak jatuh dan sakit keras. Pulang segera
Raka
Jemari Melati gemetar. Pikirannya berkecamuk. Dipejamkannnya mata sejenak. Jemarinya segera memencet beberapa nomor.
BIIP
Halo, Alfa.
Halo Mel. Ada apa?”
Aku harus kembali ke desa hari ini. Nenekku sakit.
Eh? Aku pulang nanti malam. Kita berangkat ke sana bersama.
Tidak usah aku tahu kamu sangat sibuk akhir-akhir ini. Kamu urus saja pekerjaanmu. Lagipula aku di antar Pak Eman dan bersama dengan Nana kok.
Hmmm...
Sudahlah jangan khawatir.
Kalau ada apa-apa hubungi aku. Kususul segera setelah proyeknya selesai
OK!
Melati mematikan ponselnya. Beberapa helai pakaian segera berpindah tempat ke dalam tas besar. Segera dipanggilnya Nana untuk bersiap-siap sementara itu dirinya berpamitan kepada Bu Mariam dan Ririn.
***
catatan : terimakasih kepada Nana, Dewi dan Citra, teman2 ku yg kupinjam namanya he he

Tags:

Biarkan Hati Bicara -Bagian 4 : Pernikahan

Alunan suara penyanyi dari radio mobil meningkahi keheningan. Alfa mengemudikan mobilnya perlahan. Melati sudah jatuh tertidur di sebelahnya. Mereka baru saja mengantarkan Dewi ke rumahnya. Alfa masih mengingat tatapan curiga Dewi. Kini, mobil tengah menuju rumah sakit. Rencana pertemuan di rumah Alfa berubah total. Alfa menghubungi orang tuanya,
“Bagaimana? Kalian dimana? Kamu bisa menemukan Melati?
“Satu-satu, Ma.”
Read more...Collapse )

Tags:

Biarkan Hati Bicara -Bagian 3 : Tekanan

Sebuah ruangan kelas VIP,
“Kakak mau langsung kuliah?”
“Ya masih ada satu mata kuliah yang harus kuikuti. Kamu istirahat ya biar cepat balik ke rumah.”
“Tentu saja. Nana sudah tidak sabar ingin berterima kasih.”
“Ya anak manis.” Melati mengelus kepala adiknya.
“Kamu sudah siap pergi?” wajah Alfa tiba-tiba muncul di balik pintu, Nana sedikit terkejut. Alfa masuk dan tersenyum pada Nana. “Bagaimana kabarmu hari ini, anak manis?”
“Alhamdulilah sudah agak baikan, Kak. Terima kasih sudah ada untuk Kak Melati.” Melati dan Alfa berpandangan untuk kemudian tersenyum.
“Iya... sekarang Kakak pinjam Kak Melatimu dulu ya. Nanti Mama akan menemani kamu di sini.” Nana mengangguk. Gadis 12 tahunan itu mencium punggung tangan kakaknya. Selanjutnya, dia hanya bisa menatap punggung dua orang itu hingga menghilang di balik pintu.
“Ya Allah... lindungilah mereka....” sebait do’a mengangkasa.
***
Melati merasakan tatapan-tatapan tajam menghunjam tubuh mungilnya. Dirinya cuek saja. Hal seperti ini biasa terjadi padanya. Sejak dulu dia akan selalu mengalaminya setiap kali seorang lelaki ditinggalkannya. Oleh karena itulah, semasa SMA dia tak punya kawan lain selain Dewi. Tapi kali ini Dewipun turut membencinya. Tak mengapa, melati tahu diirnya pantas dibenci. Apa boleh buat, terkadang hidup tak memberi banyak pilihan.
“Maaf ya Melati...” suara penuh keraguan. Melati sedikit kaget.
“Kenapa? Apa yang harus kumaafkan?”
“Gara-gara tawaranku kamu jadi berada dalam kondisi tak menyenangkan.” Sebenarnya Alfa tak mengerti kenapa dirinya menjadi begitu transparan. Bukankah dahulu dia selalu menjadi sosok misterius dan dingin? Mungkin karena terbawa sifat Melati yang begitu terus terang. Bagi sebagian wanita sifat Melati mungkin menjijikan. Namun, Alfa justru tertarik. Selama ini Alfa dikelilingi gadis-gadis yang menawarkan senyuman-senyuman menawan, manis dan tampak innnocent. Intuisi Alfa cukup tajam untuk mendeteksi hati mereka. Gadis itu begitu tergila-gila padanya. Mereka akan melakukan apa saja untuk Alfa. Bahkan rela melakukan tindakan yang tidak disukai. Alfa tak suka sikap seperti itu. Oleh karena itu, ketegasan Melati dalam membuat suatu keputusan, membuatnya spesial di mata Alfa.
“Tenang saja. Aku sudah sering mengalaminya.”
“Dewi juga....” Alfa merasa malu dengan sikapnya yang mendadak lembek. Tapi lidah tajamnya sedang tak bersahabat.
“Dewi akan baik-baik saja ada aku atau tidak. Dia pantas membenciku. Dia menyukaimu namun aku melakukan ini padanya. Kemarahannya adalah sesuatu yang wajar.” Melati tersenyum getir. “Terus terang aku sedih tapi hidup tak memberi banyak pilihan.” Melati menantap langit mendung. Dia berpikir ibunya juga tengah bersedih.
“Aku jadi....”
“Tidak enak bukan?” Alfa mengangguk polos seperti anak kecil. Melati ternseyum lembut. “Tak apa... harusnya aku berterimakasih padamu. Bila tak ada tawaranmu aku tak tahu apa aku masih bisa melihat senyuman Nana.” Alfa tersentak ketika Melati mengucek-ucek rambutnya. “Ternyata kamu seperti anak kecil. Mungkin aku lebih cocok menjadi kakakmu. Sudahlah jangan khawatir. Manusia harus kuat karena kehidupan tak selalu berjalan mulus. Kamu mengerti kan?” Alfa lagi-lagi bersikap seperti anak kecil. kepalanya mengangguk patuh. Keduanya pun berjalan menuju ruangan kuliah. Namun  langkah Melati mendadak terhenti. “Aku mau ke toilet kamu duluan saja!”
“Ya.” Afa bersyukur sikap coolnya bisa kembali. Setelah tubuh mungil itu menghilang di balik pintu kamar mandi, Alfa melangkahkan kakinya menuju ruangan kuliah. Kedua tangan masuk ke dalam saku. Wajah dingin terpampang misterius. Langkah kaki tegap begitu mempesona. Berpasang mata menatapnya dengan berbinar-binar. Decak kagum dapat tertangkap daun telinganya. Rupanya kekerenannya tak memudar dengan perlakuan Melati tadi. Tak disadarinya semburat merah menggurat pipinya.
***
KLIK
Melati tersentak. Dirinya menghembuskan napas berat untuk kemudian mencuci tanganya di wastafel.  Tak sengaja matanya menagkap bayang wajahnya di cermin. Melati tersenyum sinis pada bayangnya sendiri.
“Lihatlah apa yang kau perbuat! Mereka semakin membencimu. Sekarang kau terkunci di sini!”
“Apa boleh buat. Kita tidak punya pilihan bukan?” Bayang di cermin seolah menjawab. Melati kembali mengembuskan napas berat.
“Ya sudahlah. Terpaksa harus melakukan ini.” Melati merogoh isi tasnya. Dikeluarkannya sebuah kotak coklat yang lumayan besar. Jemari mungil membuka kotak perlahan. Di dalam kotak, nampak batangan besi dan kawat-kawat.
Melati meletakkan kotaknya di atas wastafel untuk kemudian mengamati lubang kunci. Beruntung, para pembully itu ceroboh dan mencabut kuncinya. Jika tidak, akan sulit utnuk menjatuhkan anak kuncinya. Setelah memperoleh analisa mengenai lubang kunci, Melati mulai bekerja. Jemari mungil dengan gesit melilitkan kawat-kawat pada batangan besi....
...
Alfa duduk tak tenang. Dosen sudah masuk hampir satu jam yang lalu. Namun, Melati belum jua kembali. Alfa mencoba berpikiran positif namun  tak mampu. Akhirnya, diputuskannya untuk menyusl Melati. Ketika dirinya hampir berdiri....
“Maaf Pak saya terlambat.” Alfa dapat bernapas lega. Melati memasuki ruangan dengan tenang. Beberapa pasang mata diam-diam terperangah. Geraham bergemeretak, jemari terkepal.
“Darimana kamu? Baru bangun tidur?”
“Saya sedikit bermasalah dengan pintu kamar mandi, Pak.”
“Saya kira mahasiswi cerdas seperti kamu bisa memberikan alasan yang lebih logis lagi.”
“Alasan logis lebih penting daripada kebenaran?”
“Kamu....”
“Ada yang mengunci saya di kamar mandi.” Beberapa wajah pias.
“Itu bukan alasan yang logis?”
“Terserah Bapak ingin percaya atau tidak? Saya akan keluar jika memang tak diizinkan mengikuti perkuliahan.” Lelaki itu menatap Melati lekat. Melati tak bergeming. Akhirnya beliau menyerah.
“Duduklah sana!”
“Terima kasih, Pak!”  Melati segera mengambil tempat duduk di pojok kanan. Beberapa pasang mata menatapnnya sinis. Melati dapat merasakan hal itu. Otak cerdasnnya bahkan dapat menerka pemilik beberapa pasang mata itulah pelaku kejadian di kamar mandi. Sepasang bola bening indah yang familiar membuat hatinya teriris. Namun, Melati bukanlah gadis lemah.
***
Alfa menyalakan mesin mobilnya setelah memastikan Melati sudah duduk nyaman di sebelahnya. Mobil mungil berjalan perlahan di tengah keramaian kota. Traffic light menyala merah. Alfa menghentikan laju mobilnya. Diliriknya tubuh mungil di sebelahnya, gadis itu tak banyak bicara sedari tadi. Alfa menjadi tak nyaman. Biasanya akan ada obrolan menarik. Entah kenapa Alfa bisa menceritakan banyak hal pada gadis itu dengan ceplas-ceplosa tak peduli pada image cool yang biasa diperlihatkannya. Melatilah gadis pertama yang membuatnya menunjukkan jati dirinya. Tidak ada kepura-puraan di hadapan Melati.
Seulas senyuman manis dan menawan terukir di sudut bibir yang mungil. Sebuah momen langka, membuat Alfa mengabadikannya dengan lensa matanya. Alfa mengikuti pandnagan Melati. Dirinya terhenyak ketika Melati membuka kaca mobil dan melungsurkan beberapa keping uang receh ke dalam genggaman jemari mungil dekil yang tengah bernyanyi riang.
Lampu menyala hijau. Alfa kembali fokus mengemudikan mobilnya. Sempat dilihatnya Melati melambai pada bocah jalanan tersebut.  Kejadian yang timbulkan sepercik rasa penasaran.
“Kamu heran kenapa aku memberi anak itu uang?”
“Ya. Itu agak sedikit aneh megingat sifatmu... maaf jangan tersinggung.” Melati tergelak. Matanya tampak hanya sebagai garis melengkung. Kedua pipinya tonjolkan lesung pipit yang mempermanis wajah. Alfa mencoba menenangkan pikiran.
“Aku tak pernah tersinggung pada kebenaran. Toh memang benar aku mata duitan kenapa harus ditutup-tutupi ha ha ha.” Alfa Melongo. Namun, raut wajah Melati mendadak serius. Matanya menatap mobil-mobil di kejauhan. “Mereka seperti saudara bagiku.” Alfa hanya mengangguk-angguk sok paham kalimat Melati masih menimbulkan tanya, terasa seperti menggantung. Namun, Melati nampak tak ingin melanjutkan kalimatnya. Alfa masih punya harga diri sebagai lelaki. Hening mewarnai suasana dalam mobil. Alfa mulai bosan. Setelah berpikir beberapa jenak, Alfa mendapatkan topik pembicaraan,
“Aku sudah hampir menyusulmu ke kamar mandi tadi. Kenapa tak menghubungiku?”
“Kukira aku bisa mengatasinya.”
“Tapi kamu terlambat satu jam. Bagaimana bisa kamu keluar?” Melati menyengir lebar. Diperlihatkannya batangan besi berlilit kawat baja.
“Aku mencobanya berkali-kali. Rancnagan pintunya lumayan susah juga untuk ditiru.” Alfa mendadak tertawa lepas.
“Ha ha kamu seperti james bond saja.”
“he he jika aku menjadi istrimu mungkin aku akan membongkar lemari besimu.”
“Wah gawat., beratrti aku harus mengganti kodenya setiap hari.”
Keduanya tertawa leaps. Airmata mereka sampai keluar. Tak sengaja kedua pasang mata bersitatap. Keduanya seperti kehilangan kata-kata. Hening yang nyaman membuai pasangan kekasih palsu. Beruntung, Melati berhasil menguasai diirnya,
“Kenapa kita jadi diam?”
“Iya jadi aneh.”
“Oh ya kita sudah sampai.” Alfa mematikan mesin mobilnya, kelaur mobil untuk membukakan pintu untuk Melati. “Terima kasih.”
“Aku mau jemput Ririn dulu.” Melati mengangguk. Alfa kembali memasuki mobil. Tak lama derum mobil berlalu meninggalkan Melati di depan rumah sakit. Mealti sempat tersenyum kecil sebelum memasuki rumah sakit. Langkah-langkah kaki ringan di kroidor rumah sakit hingga akhirnya berhenti di depan ruangan VIP.
Sebenarnya, Melati masih tak percaya adiknya dipindahkan ke ruangan ekslusif. Tempo hari mama Alfa bersikeras memindahkan Nana. Kejadian ini benar-benar seperti mimpi indah. Namun, Melati tahu kapan harus terbangun. Melati memasuki sebuah kamar dengan seulas senyuman. Ditemukannya sang adik asyik menggores-goreskan pensil di atas buku sketsa. Melati melangkahkan kakinya dengan hati-hati higga dirinya berada tepat di samping Nana. Melati terenyuh. Sebuah keluarga kecil mulai terukir di atas buku sketsa, keluarga Alfa.
“Kakak? Sejak kapan kakak ada di sini?” Wajah itu memerah malu.
“Baru saja. Kamu sedang melukis keluarga Alfa?”
“Ya Kak. Aku akan”berikkan sebagai hadiah rasa terimakasihku.”
“Baguslah. Anak baik harus tahu berterima kasih.” Melati mengelus kepala adiknya. “Kamu sudah makan?” Nana mengangguk. “Lanjutkan saja melukisnya. Kakak mau tidur sebentar.” Melati duduk di kursi samping tempat tidur. Kepalanya ditelungkupkan ke atas tempat tidur. Tak lama hinga dengkurannya terdengar. Nana menatap kakaknya dengan mata sayu.
“Terima kasih Kakak... sudah banyak sekali kakak berkorban.” Buliran bening tak terasa menuruni pipinya.  “Maaf kak...” Nana terdiam sejenak untuk kemudian melanjutkan lukisannya. Kali ini bingkai wajah Melati yang tertidur terukir perlahan di atas kertas putih....
***
Hari berganti hari. Minggu berganti bulan. Tak terasa sudah tiga bulan 2 minggu 6 hari hubungan pura-pura berjalan. Sudah tak terhitung kejadian-kejadian tak menyenangkan dialami Melati. Setiap hari ada saja hal buruk terjadi padanya. Bahkan, pernah Melati diusir dari ruangan karena selembar kertas contekan yang tak jelas kepemilikannya tiba-tiba berada di saku celananya. Melati tahu benar siapa pelakunya. Namun, dirinya tak mau peduli. Melati percaya suatu peridoe dalam kehidupan akan ada batasnya. Seperti sebuah dinasti yang akan runtuh jika habis masanya. Kejadian buruk dalam hidupmu pun akan berlalu bagaikan angin semilir di perbukitan. Hari ini Melati sibuk mempelajari buku-buku di perpustakaan.
“Mel!” Melati menghentikan pekerjaannya sejenak. Ditatapnya Alfa dengan dahi berkedut. Alfa duduk di sebelah gadis itu. “Sepertinya mamaku sudah merencanakan pernikahan.”
“Eh?”
“Kemarin malam aku tak sengaja mendengar percakapan beliau dengan papa.”
“Jadi?”
“Kukira kita harus mempersiapkan diri.”
“Aku tidak masalah dengan hal itu.”
“Maaf biasanya seorang gadis akan gugup.”
“Aku bukan tipikal yang seperti itu.”
“Kamu tidak berpikir terlalu muda untuk menikah kan? Kita masih 21 tahun.”
“Gadis akan lebih cepat dewasa dari yang kau pikir. Aku bahkan sudah menjadi dewasa sejak 10 tahun lalu.” Alfa terdiam. “Atau kamu yang menjadi ragu?” Alfa tergeragap.
“Bukan begitu. Aku hanya tak ingin kau berubah pikiran.”
“Aku takkan mengingkari janji.”
“Kupegang janjimu. Kita akan menikah.” Sesosok tubuh semampai nampak terhenyak. Langkah kakinya terhenti di antara rak buku. Jemari mengepal. Sorot mata tajam mengiris. Desisan kemarahan menjadi melodi suram bersama gemeretak gigi-gigi geraham yang beradu. Tubuh semampai bergetar ketika Alfa merangkul bahu Melati sebelum lelaki itu menuju pintu keluar.
“Alfa!” Alfa berbalik. “Kamu pulang duluan. Aku masih perlu mengerjakan sesuatu tak usah mengantarku.” Alfa berlalu meninganggalkannya. Sebuah lekukan tak proporsional terukir di sudut bibir si pemilik tubuh semampai. Melati mengelus tengkuknya, sebuah firasat buruk.
...
Sang surya condong ke barat. Lembayung senja jingga kemerahan memayungi tubuh mungil Melati. Meski lelah menghias wajah, langkah kaki tetap tergesa. Dia harus segera bergegas. Banyak hal yang harus dilakukan hari iniu. Pertama meminta izin pada Bu lina. Selanjutnya, pulang ke rumah untuk mandi. Barulah ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Nana sebelum pergi ke kediaman keluarga Alfa.
Deg! Inutisi tajam Melati mendeteksi adanya ketidakberesan. Melati menghembuskan napas berat. Dirinya bahkan tak melakukan perlawanan ketika beberapa pasang tangan memegangi tubuhnya. Pandangannya mendadak buram ketika saputangan familiar beraroma alkohol menutup hidungnya.
***
BYUURR!!
Semburan air dingin. Melati menggigil. Dibukanya matanya dengan malas. Dia sudah tahu siapa yang akan ditemuinya. Lima gadis cantik berdiri di hadapannya dengan seraut wajah sinis. Seperti firasatnya, wajah itu juga ada di sana, Dewi. Melati tersenyum mebuat kelima gadis di hadapan tersengat harga diirnya.
PLAK! Sebuah tamparan di wajah. Melati merasakan asinnya darah di sudut bibirnya. Perutnya mendadak mual. Anyir darah dan besi tua usang menciptakan aroma yang tak sedap.
“Kakak pasti kaget karena Sahabat Kakak ada bersama kami.”
“Tidak.”
“Ha ha.” Tawa dipaksakan. “Percuma saja berlagak tabah.”
“Aku tidak berlagak tabah.” Dewi tampak gemas. Melati menatapnya sayu. “Terus terang aku sedih karena kamu sahabatku semenjak SMU tapi...  aku tidak kaget. Itu hal yang wajar.”
“Sepertinya dia mulai mengigau.”
“Dewi.” Tubuh semampai nampak bergetar. “Bencilah aku hingga kau puas. Kau pantas membenciku.” Dewi membuang pandangan. Lihatlah wajahku!” Dewi kembali menatap sahabatnya, berusaha bertampang jahat.
“Kak Dewi jangan dengarkan dia!”
“Iya kita para fans Kak Alfa tidak boleh terpengaruh.”
“Aku....”
“Mereka benar Dewi. Kau harus membenciku. Dengan begitu... rasa bersalahku dapat tertebus. Tampar saja lagi wajahku.” Gadis di hadapan Melati melongo, “Ingat aku telah mencoba mempermainkan Alfa. Aku bahkan berniat menikah dnegannya demi uang.” Tangan halus terangkat siap melancarkan satu tamparan lagi.
BRAKK!
Pintu jatuh berdebam menghempas lantai. Semua makhluk dalam ruangan terhenyak. Alfa memasuki gudang kampus dengan wajah merah padam. Lima gadis itu justru menatapnya kagum. Alfa nampak seperti jagoan-jagoan di layar kaca yang tengah menyelamatkan kekasihnya. Tak disangka Dewi keempat juniornya malah berlari memeluk lengan Alfa.
“Kak Alfa untung Kakak datang. Kami takut sekali” Dewi terhenyak.
“Iya Kak, Kami dipaksa Kak Dewi untuk menyakiti Kak Melati.” Dewi menggelengkan kepalanya.
“Kami tidak mau tapi dia mengancam.” Buliran bening menuruni pipi.
“Dia sudah sering melakukannya.” Dewi menggigit bibirnya.
“Dasar penjilat!” Keempat gadis itu menatap kaget pada Melati yang berdiri tanpa ikatan pada tangan dan kakinya.
“Bagaimana bisa....”
“Ikatan kalian tidak kuat begini. Aku sudah bisa lepas dari tadi. Aku hanya ingin Dewi menghukumku kok.” Melati memelototi Alfa. “Kenapa kamu datang? Tak bisakah aku menebus rasa bersalahku sebentar saja.” Alfa melongo. Sejenak kemudian dia mendelik pada gadis-gadis di lengannya, para gadis itu gemetar dan secepat kilat kabur dari pandnagan.
...
Hening, hanya suara binatang malam.
“Melati....” Melati menyapu buliran bening di pipi Dewi.
“Sudah jangan menangis. Wajahmu jelek jika menangis.” Dewi mendadak menepis tangan Melati.
“Kamu ingin memanfaatkan Alfa?”
“Dia tidak begitu.” Dewi tersentak. “Aku yang menawarkan kesepakatan.”
“Kesepakatan?”
“Jangan katakan apapun, Fa.!”
“Aku harus tahu!”
“Kumohon, Fa.”
“Aku mau tahu!” Melati akhirnya menyerah.
“Katakan saja Fa.” Melati membuang pandangan keluar gudang.
“Kesepakatan agar dia mau menikah denganku untuk menyenangkan hati mama. Sebagi gantinya aku memberinya uang termasuk membantu biaya operasi adiknya.”
PLAKK!
Tamparan keras timbulkan bekas kemerahan di pipi Alfa. Melati hanya mendengus. Dewi menarik Melati ke dalam pelukannya.  Ditatapnya wajah Alfa penuh kebencian.
“Aku tidak akan membiarkanmu memiliki sahabatku lelaki jahat!” Alfa lumayan kaget dengan perubahan sikap Dewi.  “Aku akan mengembalikan uangmu tapi perjanjiannya batal. Aku tidak mungkin membiarkan Melati menjual dirinya padamu!” Alfa hampir berbicara namun tak disangka Melati mengucek rambut Dewi.
“Jangan begitu Dewi... Aku takkan melanggar janjiku.”
“Tapi...”
Percayalah. Aku akan baik-baik saja. Jadi tolong rahasiakan ini dari siapapun.” Raut wajah Dewi masih khawatir. Melati menatap serius wajah sahabatnya hingga sang sahabat menyerah.
“Baiklah. Tapi awas kalau kamu berani-berani membuat Melati menangis!”
“Iya....”
“Ayo Melati!” Dewi menarik Melati meninggalkan Alfa sendirian. Alfa hanya bisa melongo sejenak untuk kemudain mengikuti keduanya. Hatinya penuh tanya. Sebenaranya dia merasa tak enak memberikan tawaran konyol itu pada Melati. Tadi dia hampir membatalkan kesepakatan bahkan tanpa harus mengembalikan uangnya. Namun, tak disangka Melati malah bertahan. Alfa hanya bisa mengangkat bahu.
***

Tags:

Alfa membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kata-kata ibunya kembali terngiang di telinganya. Alfa berusaha memutar otak. Lelaki muda itu memejamkan matanya sejenak. Sekonyong-konyong kata-kata Ririn melintas,
‘Adik Bu guru sakit jantung. Masih menunggu biaya untuk operasi’
Berikutnya obrolan Melati dengan Dewi,
“Tapi kamu traktir ya?”
“Iya Melati.”
“Eh?”
“Kamu jangan kaget Fa, dia nih memang mata duitan.”
Mengingat sifat Melati yang opportunistik membuat ide gila melintas di benaknya.
“Apakah rencana ini akan berhasil? Apakah dia tidak akan tersinggung? Mungkin aku harus mencobanya...” Rasa kantuk membawanya ke alam mimpi.
Read more...Collapse )

Tags: